welcome

Just read and THINK about it...!

Senin, 18 Juni 2012

dutch diseases


DUTCH DISEASES DAN KAITANNYA DENGAN DUNIA PERTAMBANGAN DI INDONESIA
ARIEF PERDANA KUSUMAH
D62110265
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN

SARI
Dutch diseases merupakan sebuah peristiwa dalam dunia ekonomi yang merujuk pada akibat yang biasanya ditimbulakan oleh berlimpahnya sumber daya alam di suatu negara. Istilah ini dikemukakan pertama kali pada tahun 1977, yang merujuk pada menurunnya pertumbuhan di sektor perindustrian secara drastis akibat ditemukannya sumber gas alam yang berlimpah di Belanda. Model ekonomi yang menjelaskan mengenai fenomena ini kemudian dikembangkan oleh W. Max Corden and J. Peter Neary pada tahun 1982. Penyebab umumnya adalah eksploitasi sumber daya alam (SDA) secara besar-besaran, khususnya tambang yang tidak diikuti oleh berkembangnya sektor manufaktur. Hal ini sangat berkaitan erat dengan sektor pertambangan, sebab sector pertambanganlah yang sedang booming pada saat ini. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pembenahan sistem pemerintahan, pengalihan investasi, dan penyokongan ekonomi ke bidang industri lain, serta peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam pemberdayaan sumber daya alam.
ABSTRACT
Dutch diseases is a condition in the economic world that referring to a result that is usually evoked by an abundance of natural resources in a country. This term was first proposed in 1977, which refers to the growth in the industrial sector decreased drastically due to the discovery of abundant natural gas resources in the Netherlands. Economic model that explains the phenomenon was later developed by W. Max Corden and J. Peter Neary in 1982. Common causes are the exploitation of natural resources on a large scale, especially mine which is not followed by the development of the manufacturing sector. It is very closely related to the mining sector, because mining sector that is booming at the moment. To overcome this, it needs revamping the system of government, the transfer of investment, and economic smiles to other industries, as well as increased transparency and accountability in the empowerment of natural resources.
KEYWORD : Dutch diseases, mining, and natural resources.

I.             PENDAHULUAN
Sumber daya alam dan tingkat perekonomian suatu negara memiliki kaitan yang erat, dimana kekayaan sumber daya alam secara teoritis akan menunjang pertumbuhan ekonomi yang pesat. Akan tetapi, pada kenyataannya hal tersebut justru sangat bertentangan karena negara-negara di dunia yang kaya akan sumber daya alamnya seringkali merupakan negara dengan tingkat ekonomi yang rendah. Hal ini disebabkan negara yang cenderung memiliki sumber pendapatan besar dari hasil bumi memiliki kestabilan ekonomi sosial yang lebih rendah daripada negara-negara yang bergerak di sektor industri dan jasa. Di samping itu, negara yang kaya akan sumber daya alam juga cenderung tidak memiliki teknologi yang memadai dalam mengolahnya. Korupsi, perang saudara, lemahnya pemerintahan dan demokrasi juga menjadi faktor penghambat dari perkembangan perekonomian negara-negara terebut. Yang pada akhirnya akan menjadi salah satu factor penyebab dutch diseases.
II.            DUTCH DISEASES
Dalam ranah ilmu ekonomi yang disebut ”penyakit belanda” (dutch disease) adalah berkaitan dengan krisis ekonomi di Belanda tahun 1960-an, menyusul ditemukannya ladang gas alam di Laut Utara tahun 1959. Istilah itu kali pertama diperkenalkan oleh majalah The Economist tahun 1977 untuk menggambarkan kemerosotan sektor manufaktur di Negeri Kincir Angin tersebut.
Kenaikan harga komoditas primer (seperti barang tambang dan produk pertanian) akan mendorong produsen lebih berkonsentasi menggenjot produksinya karena dengan harga tinggi tentunya keuntungan yang diperoleh pun cukup menjanjikan. Kenaikan produksi pada komoditas primer membutuhkan tenaga kerja kerja yang lebih banyak, akibatnya tenaga kerja harus diambil dari sektor lainnya, seperti sektor manufaktur.
Pengaruh selanjutnya tingkat upah di sektor manufaktur menjadi meningkat karena sebagian tenaga kerja  berpindah ke sektor penghasil komoditas primer. Implikasi lebih lanjut produksi manufaktur utamanya pada corak produksi yang padat karya akan mengalami penurunan, dan itu disebut sebagai resource movement effect. Selain itu, kenaikan harga komoditas primer juga akan menaikkan pendapatan orang yang berkecimpung dalam sektor ini sehingga pengeluaran untuk barang-barang non-tradable juga meningkat.
Barang-barang yang termasuk non-tradable adalah barang yang hanya bisa dikonsumsi di tempat ia dihasilkan seperti konstruksi, transportasi, dan komunikasi. Peningkatan harga barang non-tradable akan  mendorong terjadinya apresiasi riil dari nilai tukar, akibatnya industri manufaktur menjadi tidak kompetitif dan ini yang disebut spending effect.
III.          DUTCH DISEASES DI INDONESIA
Di Indonesia sendiri Sindrom “penyakit Belanda” banyak ditemukan dalam kasus eksplotasi SDA di luar Jawa, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Daerah yang mengalami eksploitasi tambang paling parah adalah Kalsel dengan batu bara-nya, Kaltim dengan gas dan batu bara, Papua dengan tambang tembaganya, dan Sulsel dengan nikel-nya. Tidak bisa dipungkiri, sekitar 70 persen output perekonomian Papua disumbangkan oleh hanya satu perusahaan pertambangan, yaitu PT Freeport. Sementara kontribusi industri pengolahan masih relatif kecil atau bahkan mengalami deteorisasi. Pertumbuhan sektor pertambangan jauh lebih besar dibandingkan sektor industri pengolahan berbasis pertanian (agroindustry).
Demikian juga dengan Sulawesi, khususnya Sulsel dan Sultra yang mengandalkan komoditas pertambangan nikel. Perusahaan nikel terbesar di Sulsel adalah PT Inco dengan konsesi lahan yang sangat luas dan berjangka panjang. Ekspor utama Sulsel ke sejumlah negara dalam beberapa tahun terakhir sangat bergantung pada satu komoditas saja, yaitu nikel.  Perekonomian Sulsel belum juga bergerak ke resources based industry (industri berbasis SDA). Secara sektoral perekonomian Sulsel masih sangat didominasi oleh sektor perdagangan dan pertanian. Sektor industry pengolahan masih tercecer di belakang dan bahkan mengalami proses pelambatan dengan pertumbuhan yang lebih kecil dibanding sektor lainnya.
Kecenderungan yang lebih parah lagi terjadi di Kaltim, yaitu eksploitasi tambang besar-besaran hanya menyisakan problem lingkungan yang serius. Banyak yang memprediksi bahwa suatu saat Kaltim akan menjadi daerah miskin ketika rezeki migas sudah mulai menipis. Pemerintah lalai atau alpa dalam menggerakkan sektor industri manufakturnya
IV.          SOLUSI DUTCH DISEASES.
Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pembenahan sistem pemerintahan, pengalihan investasi, dan penyokongan ekonomi ke bidang industri lain, serta peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam pemberdayaan sumber daya alam. Contoh negara yang telah berhasil mengatasi hal tersebut dan menjadikan kekayaan alam sebagai pemicu pertumbuhan negara adalah Norwegia dan Botswana.
Dan untuk di Indonesia jalan keluar yang baik menurut Muhammad Syarkawi Rauf, (Regional Chief Economist BNI/Kepala Lembaga Pengkajian Ekonomi dan Bisnis Fakultas Ekonomi Unhas) adalah, aliran investasi ke sektor pertambangan dan perkebunan di luar Jawa dan ke sektor industri ke pulau Jawa akan membuat program pemerintah mengalami kegagalan, khususnya terkait komitmen mempercepat proses industrialisasi di luar Jawa. Sulit merealisasikan rencana pemerintah untuk menempatkan Jawa hanya sebagai innovation centre atau pusat R dan D. Pola penyebaran investasi baik investasi dalam negeri maupun foreign direct investment (FDI) semakin memperkuat sindrom “penyakit Belanda” di Indonesia. Di mana sekitar Rp21,50 triliun realisasi investasi ke KTI hanya terkonsentrasi di sektor pertambangan. Sulawesi yang kebagian Rp 5,1 triliun juga didominasi investasi pertambangan.
Idealnya, investasi ke luar Jawa diarahkan pada infrastruktur dasar dan resources based industry. Pemerintah bisa mengendalikannya secara langsung tidak hanya dengan membuat aturan mengenai bea keluar ekspor SDA non-olahan yang tinggi. Pengendalian bisa dimulai dari sejak awal penerbitan izin investasinya, yaitu memprioritaskan izin investasi yang disertai oleh industri pengolahannya di luar Jawa, khususnya KTI. Jalan keluarnya adalah hilirisasi komoditas utama di setiap pulau atau merujuk pada MP3EI pada setiap koridor ekonomi. Hilirisasi adalah kegiatan mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi yang langsung bisa dijual ke konsumen akhir. Pemerintah tidak boleh hanya berada pada rantai produksi dengan nilai tambah rendah, seperti produk intermediate.
Hilirisasi komoditas utama nasional juga harus berhati-hati. Pembangunan yang terlalu berorientasi pada nilai tambah dapat melahirkan masalah baru, khususnya yang terkait ownership dari industrinya. Sebab tidak ada gunanya pemerintah ngotot membangun industri, misalnya pengolahan nikel tetapi mematikan pengusaha nikel lokal. Peralihan ownership akan berdampak negatif jika pada akhirnya industry pengolahan SDA dimiliki asing. Perusahaan pertambangan asing lebih mampu berinvestasi di industri pengolahan nikelnya dan juga komoditas strategis lainnya. Akhirnya, tidak ada gunanya jika usaha pemerintah menghindari jebakan “penyakit Belanda” hanya membuat usaha kecil kehilangan kepemilikan.
V.            KESIMPULAN
“Dutch diseases” atau sering disebut penyakit belanda merupakan sebuah peristiwa dalam dunia ekonomi yang pada hakikatnya adalah fenomena di bidang perekonomian yang merujuk pada akibat yang biasanya ditimbulakan oleh berlimpahnya sumber daya alam di suatu negara yang menyebabkan menurunnya sktor lain, sehingga kalah bersaing dengan sektor SDA yang sedang booming. Penyebab umumnya adalah eksploitasi sumber daya alam (SDA) secara besar-besaran, khususnya tambang yang tidak diikuti oleh berkembangnya sektor manufaktur. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pembenahan sistem pemerintahan, pengalihan investasi, dan penyokongan ekonomi ke bidang industri lain, serta peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam pemberdayaan sumber daya alam.



UCAPAN TERIMA KASIH
Yang pertama saya ucapkan terima kasih kepada Allah SWT, sebab berkat rahmat dan hidayat-Nya lah jurnal ini diselesaikan. Dan yang kedua ialah kepada semua sumber rujukan, terima kasih telah bersedia membagi ilmunya kepada saya
DAFTAR PUSTAKA
Balázs Égert and Carol S. Leonard, Dutch Disease Scare in Kazakhstan: Is It Real?, William Davidson Institute Working Paper Number 866, March 2007
W. Max Corden , The Dutch Disease in Australia Policy Options for a Three-Speed Economy, Working Paper  No. 2011/14, November 2011
W. Max Corden, The Dutch Disease in Australia: Policy Options for a Three-Speed Economy*, Department of Economics, The University of Melbourne, Melbourne Institute Working Paper No. 5/12, February 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar