DUTCH DISEASES DAN KAITANNYA DENGAN DUNIA PERTAMBANGAN DI
INDONESIA
ARIEF
PERDANA KUSUMAH
D62110265
PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
SARI
Dutch
diseases merupakan sebuah peristiwa dalam dunia ekonomi yang merujuk pada
akibat yang biasanya ditimbulakan oleh berlimpahnya sumber daya alam di suatu negara. Istilah ini dikemukakan pertama kali pada tahun 1977, yang merujuk pada menurunnya pertumbuhan di sektor perindustrian secara drastis akibat
ditemukannya sumber gas alam yang berlimpah di Belanda. Model ekonomi yang
menjelaskan mengenai fenomena ini kemudian dikembangkan oleh W. Max Corden and
J. Peter Neary pada tahun 1982. Penyebab umumnya
adalah eksploitasi sumber daya alam (SDA) secara besar-besaran, khususnya
tambang yang tidak diikuti oleh berkembangnya sektor manufaktur. Hal ini sangat
berkaitan erat dengan sektor pertambangan, sebab sector pertambanganlah yang
sedang booming pada saat ini. Untuk
mengatasi hal tersebut, diperlukan pembenahan sistem pemerintahan, pengalihan investasi, dan penyokongan
ekonomi ke bidang industri lain, serta peningkatan transparansi dan akuntabilitas
dalam pemberdayaan sumber daya alam.
ABSTRACT
Dutch diseases
is a condition in the economic
world that referring to a result that is usually evoked by
an abundance of natural resources
in a country. This term was first proposed in
1977, which refers to the growth in the
industrial sector decreased drastically
due to the discovery of abundant natural gas resources
in the Netherlands. Economic model
that explains the phenomenon was later developed by W. Max Corden and J. Peter Neary in 1982. Common causes are the exploitation of natural resources on a large scale, especially mine which is not
followed by the development of
the manufacturing sector. It is very
closely related to the mining sector, because mining sector that is booming
at the moment. To overcome this, it needs revamping the system of government, the transfer of
investment, and economic
smiles to other
industries, as well as increased transparency and accountability
in the empowerment of natural resources.
KEYWORD : Dutch
diseases, mining, and natural resources.
I.
PENDAHULUAN
Sumber daya alam dan tingkat perekonomian suatu negara memiliki
kaitan yang erat, dimana kekayaan sumber daya alam secara teoritis akan
menunjang pertumbuhan ekonomi yang pesat. Akan tetapi, pada kenyataannya hal
tersebut justru sangat bertentangan karena negara-negara di dunia yang kaya
akan sumber daya alamnya seringkali merupakan negara dengan tingkat ekonomi
yang rendah. Hal ini disebabkan negara yang cenderung memiliki sumber pendapatan besar dari hasil bumi memiliki kestabilan
ekonomi sosial yang lebih rendah daripada
negara-negara yang bergerak di sektor industri dan jasa. Di samping itu, negara
yang kaya akan sumber daya alam juga cenderung tidak memiliki teknologi yang memadai dalam
mengolahnya. Korupsi, perang saudara, lemahnya pemerintahan dan demokrasi juga menjadi faktor
penghambat dari perkembangan perekonomian negara-negara terebut. Yang pada
akhirnya akan menjadi salah satu factor penyebab dutch diseases.
II.
DUTCH
DISEASES
Dalam ranah ilmu ekonomi yang
disebut ”penyakit belanda” (dutch disease) adalah berkaitan dengan krisis
ekonomi di Belanda tahun 1960-an, menyusul ditemukannya ladang gas alam di Laut
Utara tahun 1959. Istilah itu kali pertama diperkenalkan oleh majalah The Economist
tahun 1977 untuk menggambarkan kemerosotan sektor manufaktur di Negeri Kincir
Angin tersebut.
Kenaikan harga komoditas primer (seperti barang
tambang dan produk pertanian) akan mendorong produsen lebih berkonsentasi
menggenjot produksinya karena dengan harga tinggi tentunya keuntungan yang
diperoleh pun cukup menjanjikan. Kenaikan produksi pada komoditas primer
membutuhkan tenaga kerja kerja yang lebih banyak, akibatnya tenaga kerja harus
diambil dari sektor lainnya, seperti sektor manufaktur.
Pengaruh selanjutnya tingkat upah di sektor
manufaktur menjadi meningkat karena sebagian tenaga kerja berpindah ke
sektor penghasil komoditas primer. Implikasi lebih lanjut produksi manufaktur
utamanya pada corak produksi yang padat karya akan mengalami penurunan, dan itu
disebut sebagai resource movement effect. Selain itu, kenaikan harga komoditas
primer juga akan menaikkan pendapatan orang yang berkecimpung dalam sektor ini
sehingga pengeluaran untuk barang-barang non-tradable juga meningkat.
Barang-barang yang termasuk non-tradable adalah
barang yang hanya bisa dikonsumsi di tempat ia dihasilkan seperti konstruksi,
transportasi, dan komunikasi. Peningkatan harga barang non-tradable akan
mendorong terjadinya apresiasi riil dari nilai tukar, akibatnya industri
manufaktur menjadi tidak kompetitif dan ini yang disebut spending effect.
III.
DUTCH
DISEASES DI INDONESIA
Di Indonesia sendiri Sindrom “penyakit Belanda”
banyak ditemukan dalam kasus eksplotasi SDA di luar Jawa, mulai dari Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Daerah yang mengalami eksploitasi tambang
paling parah adalah Kalsel dengan batu bara-nya, Kaltim dengan gas dan batu
bara, Papua dengan tambang tembaganya, dan Sulsel dengan nikel-nya. Tidak bisa
dipungkiri, sekitar 70 persen output perekonomian Papua disumbangkan oleh hanya
satu perusahaan pertambangan, yaitu PT Freeport. Sementara kontribusi industri
pengolahan masih relatif kecil atau bahkan mengalami deteorisasi. Pertumbuhan
sektor pertambangan jauh lebih besar dibandingkan sektor industri pengolahan
berbasis pertanian (agroindustry).
Demikian juga dengan Sulawesi, khususnya Sulsel
dan Sultra yang mengandalkan komoditas pertambangan nikel. Perusahaan nikel
terbesar di Sulsel adalah PT Inco dengan konsesi lahan yang sangat luas dan
berjangka panjang. Ekspor utama Sulsel ke sejumlah negara dalam beberapa tahun
terakhir sangat bergantung pada satu komoditas saja, yaitu nikel. Perekonomian Sulsel belum juga bergerak ke
resources based industry (industri berbasis SDA). Secara sektoral perekonomian
Sulsel masih sangat didominasi oleh sektor perdagangan dan pertanian. Sektor
industry pengolahan masih tercecer di belakang dan bahkan mengalami proses pelambatan
dengan pertumbuhan yang lebih kecil dibanding sektor lainnya.
Kecenderungan yang lebih parah lagi terjadi di
Kaltim, yaitu eksploitasi tambang besar-besaran hanya menyisakan problem
lingkungan yang serius. Banyak yang memprediksi bahwa suatu saat Kaltim akan
menjadi daerah miskin ketika rezeki migas sudah mulai menipis. Pemerintah lalai
atau alpa dalam menggerakkan sektor industri manufakturnya
IV.
SOLUSI
DUTCH DISEASES.
Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan
pembenahan sistem pemerintahan, pengalihan investasi, dan penyokongan
ekonomi ke bidang industri lain, serta peningkatan transparansi dan
akuntabilitas dalam pemberdayaan sumber daya alam. Contoh negara yang telah
berhasil mengatasi hal tersebut dan menjadikan kekayaan alam sebagai pemicu
pertumbuhan negara adalah Norwegia dan Botswana.
Dan untuk di Indonesia jalan keluar yang baik
menurut Muhammad Syarkawi Rauf, (Regional Chief Economist BNI/Kepala Lembaga
Pengkajian Ekonomi dan Bisnis Fakultas Ekonomi Unhas) adalah, aliran investasi
ke sektor pertambangan dan perkebunan di luar Jawa dan ke sektor industri ke
pulau Jawa akan membuat program pemerintah mengalami kegagalan, khususnya
terkait komitmen mempercepat proses industrialisasi di luar Jawa. Sulit
merealisasikan rencana pemerintah untuk menempatkan Jawa hanya sebagai
innovation centre atau pusat R dan D. Pola penyebaran investasi baik investasi
dalam negeri maupun foreign direct investment (FDI) semakin memperkuat sindrom
“penyakit Belanda” di Indonesia. Di mana sekitar Rp21,50 triliun realisasi
investasi ke KTI hanya terkonsentrasi di sektor pertambangan. Sulawesi yang
kebagian Rp 5,1 triliun juga didominasi investasi pertambangan.
Idealnya, investasi ke luar Jawa diarahkan pada
infrastruktur dasar dan resources based industry. Pemerintah bisa
mengendalikannya secara langsung tidak hanya dengan membuat aturan mengenai bea
keluar ekspor SDA non-olahan yang tinggi. Pengendalian bisa dimulai dari sejak
awal penerbitan izin investasinya, yaitu memprioritaskan izin investasi yang
disertai oleh industri pengolahannya di luar Jawa, khususnya KTI. Jalan
keluarnya adalah hilirisasi komoditas utama di setiap pulau atau merujuk pada
MP3EI pada setiap koridor ekonomi. Hilirisasi adalah kegiatan mengolah bahan
mentah menjadi bahan jadi yang langsung bisa dijual ke konsumen akhir.
Pemerintah tidak boleh hanya berada pada rantai produksi dengan nilai tambah
rendah, seperti produk intermediate.
Hilirisasi komoditas utama nasional juga harus
berhati-hati. Pembangunan yang terlalu berorientasi pada nilai tambah dapat
melahirkan masalah baru, khususnya yang terkait ownership dari industrinya.
Sebab tidak ada gunanya pemerintah ngotot membangun industri, misalnya
pengolahan nikel tetapi mematikan pengusaha nikel lokal. Peralihan ownership
akan berdampak negatif jika pada akhirnya industry pengolahan SDA dimiliki
asing. Perusahaan pertambangan asing lebih mampu berinvestasi di industri
pengolahan nikelnya dan juga komoditas strategis lainnya. Akhirnya, tidak ada
gunanya jika usaha pemerintah menghindari jebakan “penyakit Belanda” hanya
membuat usaha kecil kehilangan kepemilikan.
V.
KESIMPULAN
“Dutch diseases” atau sering disebut penyakit
belanda merupakan sebuah peristiwa dalam dunia ekonomi yang pada hakikatnya
adalah fenomena di bidang perekonomian yang merujuk pada
akibat yang biasanya ditimbulakan oleh berlimpahnya sumber daya alam di suatu negara yang menyebabkan menurunnya sktor lain, sehingga kalah
bersaing dengan sektor SDA yang sedang booming.
Penyebab umumnya adalah eksploitasi sumber daya alam (SDA) secara
besar-besaran, khususnya tambang yang tidak diikuti oleh berkembangnya sektor
manufaktur. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan pembenahan sistem pemerintahan, pengalihan investasi, dan penyokongan
ekonomi ke bidang industri lain, serta peningkatan transparansi dan
akuntabilitas dalam pemberdayaan sumber daya alam.
UCAPAN TERIMA KASIH
Yang pertama saya ucapkan terima kasih kepada
Allah SWT, sebab berkat rahmat dan hidayat-Nya lah jurnal ini diselesaikan. Dan
yang kedua ialah kepada semua sumber rujukan, terima kasih telah bersedia membagi
ilmunya kepada saya
DAFTAR
PUSTAKA
Balázs Égert and Carol S. Leonard, Dutch Disease Scare in Kazakhstan: Is It Real?, William
Davidson Institute Working Paper Number 866, March 2007
W. Max Corden , The Dutch Disease in Australia Policy Options for a Three-Speed Economy,
Working Paper No. 2011/14, November 2011
W. Max Corden, The
Dutch Disease in Australia: Policy Options for a Three-Speed Economy*,
Department of Economics, The University of Melbourne, Melbourne Institute
Working Paper No. 5/12, February 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar